Tadabbur QS. Al-Fatihah 4: Pemilik Hari Pembalasan
Kutipan telah dicocokkan dengan kitab (2 November 2026)
Jawaban singkat
Menurut al-Jalalain, yaumid din adalah hari pembalasan, yaitu Kiamat, saat tidak ada kekuasaan yang tampak kecuali milik Allah. Ibnu Katsir menegaskan Allah tetap Rabb di dunia dan akhirat, hanya saja di hari itu tak seorang pun berbicara tanpa izin-Nya. Renungannya: siklus alam, jejak digital, dan kesadaran akan pertanggungjawaban.
Ayat dan terjemahnya
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾
Pemilik hari pembalasan.
QS. Al-Fatihah: 4. Baca tafsir ayat ini
Ayat keempat Al-Fatihah ini menyebut Allah sebagai pemilik atau raja hari pembalasan. Ia datang setelah penyebutan Rabbil alamin, ar-Rahman dan ar-Rahim.
Ringkasan tafsir
Bagian ini hanya merangkum apa yang ditulis para mufasir dalam rujukan terlampir.
Makna yaumid din. Menurut al-Jalalain, yaumid din berarti hari pembalasan, yaitu hari Kiamat. Hari itu disebut secara khusus karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan yang tampak selain Allah. Ad-Durrah juga menerangkan bahwa kata ad-din di sini berarti pembalasan, sebagaimana ungkapan "sebagaimana engkau berbuat, engkau dibalas".
أَيْ الْجَزَاء وَهُوَ يَوْم الْقِيَامَة وَخُصّ بِالذِّكْرِ لِأَنَّهُ لَا مُلْك ظَاهِرًا فِيهِ لِأَحَدٍ إلَّا لِلَّهِ تَعَالَى
Yakni hari pembalasan, yaitu hari Kiamat. Hari itu disebut secara khusus karena tidak ada kekuasaan yang tampak bagi siapa pun pada hari itu kecuali milik Allah Ta'ala.
Rujukan: Tafsir Jalalain, bab ٤, hlm. 2. Baca halaman ini di perpustakaan
Mengapa hari itu yang disebut. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan kerajaan pada hari pembalasan tidak menafikan kerajaan Allah pada waktu lain, sebab sebelumnya telah disebut bahwa Dia Rabbil alamin, yang berlaku di dunia dan akhirat. Hari itu disebut khusus karena tidak ada yang mengaku memiliki sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya. Ibnu Katsir menukil Ibnu Abbas bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang memiliki hukum bersama Allah sebagaimana kekuasaan mereka di dunia.
وتخصيص [¬٢] الملك بيوم الدين لا ينفيه عما عداه؛ لأنَّه قد تقدَّم الإخبار بأنه رب العالمين، وذلك عام في الدُّنيا والآخرة
Penyebutan kerajaan pada hari pembalasan tidak menafikannya pada waktu lain, karena sebelumnya telah disebut bahwa Dia Rabbil alamin, dan itu berlaku di dunia dan akhirat.
Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir, bab ذكر أقوال السلف في الحمد, juz 1, hlm. 212. Baca halaman ini di perpustakaan
Kalimat berikutnya dalam kitab memberi alasan bahwa pada hari itu tak seorang pun berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Dua bacaan: maliki dan maaliki. Ibnu Katsir menyebut bahwa para qari membaca malik dan maalik, dan keduanya sahih dan mutawatir dalam qiraat tujuh. Al-Qurthubi memaparkan perbedaan ulama tentang mana yang lebih mendalam maknanya. Sebagian menilai malik lebih luas karena setiap raja adalah pemilik, tetapi tidak setiap pemilik adalah raja. Sebagian lain menilai malik lebih luas karena pemilik dapat bertindak atas manusia dan selain mereka. Ad-Durrah menukil kritik al-Qurthubi terhadap pendapat bahwa maalik lebih utama karena hurufnya lebih banyak: itu menurutnya pandangan terhadap bentuk, bukan makna.
فَقِيلَ:" مَلِكِ" أَعَمُّ وَأَبْلَغُ مِنْ" مالِكِ" إِذْ كُلُّ مَلِكٍ مَالِكٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مَالِكٍ مَلِكًا
Dikatakan bahwa malik lebih luas dan lebih mendalam daripada maalik (pemilik), karena setiap raja adalah pemilik, tetapi tidak setiap pemilik adalah raja.
Rujukan: Tafsir al-Qurthubi, bab [سورة الفاتحة (١): آية ٤], juz 1, hlm. 140. Baca halaman ini di perpustakaan
Dalam kitab yang sama ada pendapat lain bahwa malik (pemilik) lebih mendalam, dan al-Qurthubi memaparkan keduanya.
Penyebutan khusus setelah umum. Ad-Durrah menerangkan bahwa menyebut malik yaumid din setelah Rabbil alamin termasuk menyebut yang khusus setelah yang umum, yang mengandung makna menegaskan kebesaran-Nya. Menurut ad-Durrah, pada hari itu raja-raja dunia kehilangan kekuasaan yang tampak, dan Allah sendiri yang berkuasa.
لأنه في ذلك اليوم ينسلخ عن ملوك الدنيا ما كان لهم من الملك الظاهر، وينفرد الجبّار فيه بالملك، ونفوذ الأمر
Karena pada hari itu para raja dunia dilucuti dari kekuasaan lahir yang dahulu mereka miliki, dan Yang Mahaperkasa sendiri yang berkuasa dan berlaku perintah-Nya.
Rujukan: Tafsir ad-Durrah (I'rab), bab [سورة الفاتحة (١): آية ٤], juz 1, hlm. 22. Baca halaman ini di perpustakaan
Kalimat ini ada pada akhir penjelasan ad-Durrah tentang yaumid din.
Dari sisi bahasa dan hubungan antarsifat. Nawawi al-Jawi dalam Marah Labid menafsirkan malik sebagai yang mengatur seluruh urusan hari Kiamat dengan perintah dan larangan, dengan merujuk pada ayat tentang hari ketika tidak ada jiwa yang memiliki apa pun bagi jiwa lain. Ar-Razi mengisyaratkan hubungan antar-ayat: Allah Rahman dan Rahim kepada pemilik hajat, dan Malik dalam mengantar orang-orang baik ke derajat tinggi serta memasukkan para pendurhaka ke tingkat bawah.
أي المتصرف في أمر القيامة بالأمر والنهي
Yakni Yang berkuasa mengatur urusan hari Kiamat dengan perintah dan larangan.
Rujukan: Tafsir Marah Labid, bab [سورة الفاتحة (١) : الآيات ١ إلى ٧], juz 1, hlm. 8. Baca halaman ini di perpustakaan
Penjelasan ini ada pada awal halaman sebagai kelanjutan penjelasan ayat 4 dari halaman sebelumnya; kata awal dalam kitab menyebut bacaan mālik dengan alif.
Tadabbur: Hari Pertanggungjawaban dalam Kehidupan Kita
Bagian ini adalah renungan dan keterkaitan modern, bukan tafsir ayat. Ia tidak dimaksudkan sebagai makna pasti ayat.
Alam semesta dan bumi
Al-Jalalain dan ad-Durrah menyebut bahwa pada hari pembalasan kekuasaan yang tampak hilang dari para penguasa dunia. Ini dapat direnungkan bersama gambaran bahwa alam ini bergerak menurut hukum yang ditetapkan, sedangkan manusia sering merasa menguasai. Dalam fisika, energi mengalir dan berubah bentuk; menurut hukum kedua termodinamika, sistem terisolasi cenderung mengarah pada ketidakteraturan yang meningkat. Gambaran ini memberi bayangan bahwa segala yang ada tunduk pada ketentuan, dan tidak ada yang sepenuhnya abadi dalam bentuk sekarang.
Pesan renungan: kekuasaan dan kemampuan kita terbatas, sehingga kerendahan hati lebih pantas daripada kesombongan.
Makhluk hidup dan lingkungan
Ibnu Katsir menyebut bahwa pada hari itu semua tunduk dan tidak ada yang berbicara tanpa izin. Dalam kehidupan sekarang, manusia sering merasa bebas bertindak terhadap lingkungan tanpa konsekuensi. Padahal ekologi menunjukkan bahwa tindakan yang tampak kecil dapat berakibat luas, misalnya penebangan hutan yang mengubah tata air dan hilangnya habitat banyak spesies. Konsekuensi alamiah ini bukan makna ayat, tetapi dapat mengingatkan bahwa setiap perbuatan mempunyai akibat dan pertanggungjawaban.
Pesan renungan: perlakukan tumbuhan, hewan, dan air sebagai amanah yang kelak kita pertanggungjawabkan.
Teknologi dan kehidupan modern
Menurut Ibnu Abbas yang dinukil Ibnu Katsir, yaumid din adalah hari ketika Allah membalas manusia sesuai amalnya. Dalam dunia digital, setiap aktivitas daring meninggalkan jejak berupa catatan data, riwayat transaksi, dan riwayat unggahan. Hal ini dapat direnungkan dengan hati-hati sebagai pengingat bahwa tindakan manusia tercatat. Namun jejak digital bukan cermin hisab akhirat; catatan manusia bisa keliru, sedangkan catatan Allah sempurna.
Pesan renungan: berhati-hatilah dengan apa yang kita ketik, bagikan, dan lakukan, karena ada kesaksian yang jauh lebih teliti.
Pesan untuk kita
- Ingat bahwa Allah adalah Rabb sekaligus Malik, sehingga kita berharap rahmat-Nya dan takut akan hisab-Nya.
- Jadikan keyakinan akan hari pembalasan sebagai pengendali sikap saat berkuasa atau berkecukupan.
- Rawat alam dan tulislah hanya yang baik di dunia digital.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti yaumid din?
Menurut al-Jalalain, yaumid din adalah hari pembalasan, yaitu hari Kiamat. Ad-Durrah juga menjelaskan ad-din di sini bermakna pembalasan.
Mengapa hari pembalasan disebut khusus, padahal Allah pemilik segalanya?
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan itu tidak menafikan kerajaan-Nya pada waktu lain. Hari itu disebut khusus karena tak seorang pun mengaku memiliki sesuatu dan tak ada yang bicara kecuali dengan izin-Nya.
Apa beda bacaan malik dan malik?
Keduanya bacaan mutawatir menurut Ibnu Katsir. Al-Qurthubi menukil perbedaan pandangan ulama tentang mana yang maknanya lebih luas.
Apakah ayat ini menyebut termodinamika atau jejak digital?
Tidak. Kaitan dengan fisika, ekologi, dan teknologi adalah renungan penulis, bukan tafsir ayat.
Infografis
Versi teks infografis
TADABBUR
QS. Al-Fatihah 4:
Pemilik Hari
Pembalasan
Pada hari itu kekuasaan
hanya milik Allah.
1. Yaumid din: hari
pembalasan, yaitu Kiamat.
2. Allah Rabb di dunia dan
akhirat, tanpa tandingan.
3. Dua bacaan: malik dan
malik, keduanya mutawatir.
4. Renungan: alam, bumi,
dan jejak digital.
Sumber: al-Jalalain,
Ibnu Katsir, al-Qurthubi
sanadkitab.com
Sumber: Tafsir al-Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurthubi
Daftar rujukan
- Tafsir Jalalain, bab ٤, hlm. 2.
- Tafsir Ibnu Katsir, bab ذكر أقوال السلف في الحمد, juz 1, hlm. 212.
- Tafsir al-Qurthubi, bab [سورة الفاتحة (١): آية ٤], juz 1, hlm. 140.
- Tafsir ad-Durrah (I'rab), bab [سورة الفاتحة (١): آية ٤], juz 1, hlm. 22.
- Tafsir Marah Labid, bab [سورة الفاتحة (١) : الآيات ١ إلى ٧], juz 1, hlm. 8.