Lewati ke konten

Bagaimana Bersuci bagi Penderita Beser dan Pengguna Kateter?

Oleh Dede Wahyudin, S.Pd.I Terbit 4 menit baca

Kutipan telah dicocokkan dengan kitab (1 November 2026)

Jawaban singkat

Menurut mazhab Syafi'i, penderita salisul baul tetap wajib shalat. Ia membersihkan kemaluan, menyumbat atau membalut bila perlu, berwudhu setelah masuk waktu untuk setiap shalat fardhu, lalu segera shalat dengan niat istibahah. Kateter tidak dibahas langsung dalam kitab; Namun artikel NU Online menyamakannya dengan hadats yang terus-menerus.

Gambaran kasus

Sebagian orang mengalami gangguan saluran kencing sehingga air seni menetes terus-menerus dan tidak bisa ditahan. Dalam fikih keadaan ini disebut salisul baul (beser). Ada pula yang memakai kateter permanen sehingga air seni mengalir lewat selang ke kantong penampung. Pertanyaannya: bagaimana wudhunya, niatnya, dan apakah shalat tetap harus dikerjakan? Bagaimana pula bila penderita beser menjadi khatib Jumat?

Artikel ini merangkum teks kitab dan bukan fatwa pribadi. Kitab Syafi'i dalam bahan membahas salisul baul dengan jelas, tetapi tidak menyebut kateter secara langsung. Untuk kateter, artikel ini hanya membandingkannya dengan tulisan NU Online.

Penjelasan menurut mazhab Syafi'i

Hadatsnya terus-menerus, shalat tetap wajib

Kitab-kitab Syafi'i menggolongkan penderita salisul baul sebagai orang yang hadatsnya terus-menerus (da'imul hadats), sama seperti wanita mustahadhah. Al-Majmu' (juz 1 hlm. 79) menyebut thaharah mustahadhah dan salisul baul sebagai thaharah yang tidak mengangkat hadats, dan menyebut adanya satu wajh lemah yang menyatakan sebaliknya. Penderita tidak dibebaskan dari shalat; yang diringankan adalah tata cara bersucinya.

Tidak boleh berwudhu sebelum masuk waktu

I'anatut Thalibin menjelaskan syarat khusus bagi orang seperti ini.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وشمل سلس البول وسلس الريح، فلو توضأ قبل دخول الوقت لم يصح لأنه طهارة ضرورة، ولا ضرورة قبل الوقت.

Ucapan itu mencakup beser kencing dan beser angin. Bila ia berwudhu sebelum masuk waktu, wudhunya tidak sah, karena itu thaharah darurat, dan tidak ada darurat sebelum waktu.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47. Baca halaman ini di perpustakaan

Penjelasan hasyiyah atas ucapan pengarang tentang orang yang hadatsnya terus-menerus.

Wudhunya adalah thaharah darurat. Karena tidak ada darurat sebelum waktu masuk, wudhu sebelum waktunya tidak sah.

Langkah bersuci dan segera shalat

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وحاصل ما يجب عليه - سواء كان مستحاضة أو سلسا - أن يغسل فرجه أولا عما فيه من النجاسة، ثم يحشوه بنحو قطنة - إلا إذا تأذى به أو كان صائما - وأن يعصبه بعد الحشو بخرقة إن لم يكفه الحشو لكثرة الدم، ثم يتوضأ أو يتيمم، ويبادر بعده إلى الصلاة، ويفعل هكذا لكل فرض وإن لم تزل العصابة عن محلها.

Ringkasan kewajibannya, baik mustahadhah maupun penderita salas: pertama membasuh kemaluan dari najis yang ada, kemudian menyumbatnya dengan semisal kapas, kecuali bila menyakitkan atau ia sedang berpuasa, lalu membalutnya dengan kain bila sumbat saja tidak cukup karena banyaknya darah. Setelah itu berwudhu atau bertayamum, segera shalat, dan melakukan hal yang sama untuk setiap shalat fardhu walaupun pembalutnya belum bergeser.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47. Baca halaman ini di perpustakaan

Penjelasan hasyiyah. Kata 'darah' berkaitan dengan mustahadhah; sumbat dan balut berlaku juga bagi penderita salas sesuai keadaannya.

Urutannya: basuh kemaluan, sumbat dengan semisal kapas, balut bila sumbat tidak cukup, lalu berwudhu atau bertayamum dan segera shalat. Penyumbatan tidak dilakukan bila menyakitkan atau bila ia sedang berpuasa. Keterangan serupa dalam bab istihadhah di Nihayatul Muhtaj (juz 1 hlm. 336) menyebut bahwa menunda shalat untuk kepentingan shalat itu sendiri tidak merusak thaharah, misalnya menutup aurat, azan dan iqamah, menunggu jamaah, pergi ke masjid, mencari sutrah, atau berijtihad arah kiblat.

Wudhu untuk setiap shalat fardhu

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
أي ويجب على دائم الحدث الوضوء لكل فرض ولو منذورا، فلا يجوز أن يجمع بوضوء واحد بين فرضين، كما أنه لا يجوز أن يجمع بتيمم واحد بينهما.

Yakni, orang yang hadatsnya terus-menerus wajib berwudhu untuk setiap shalat fardhu, walaupun fardhu nazar. Ia tidak boleh menggabungkan dua fardhu dengan satu wudhu, sebagaimana tidak boleh menggabungkan keduanya dengan satu tayamum.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47. Baca halaman ini di perpustakaan

Penjelasan hasyiyah atas ucapan pengarang tentang wajibnya wudhu untuk setiap fardhu.

Satu wudhu tidak boleh dipakai untuk dua shalat fardhu. Dengan wudhu untuk satu fardhu itu, I'anatut Thalibin (juz 1 hlm. 47) menyebut ia boleh shalat sunnah sebanyak yang ia mau. Hasyiyah asy-Syibramallisi pada Nihayatul Muhtaj (juz 1 hlm. 337) juga mengutip Ibnu Hajar bahwa air seni yang sedikit dimaafkan bagi penderita salas, yaitu yang keluar setelah ia menyempurnakan sumbat dan balutan.

Niat

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
(وَمَنْ دَامَ حَدَثُهُ كَمُسْتَحَاضَةٍ) وَسَلَسِ بَوْلٍ أَوْ نَحْوِهِ (كَفَاهُ نِيَّةُ الِاسْتِبَاحَةِ) الْمَارَّةِ (دُونَ) نِيَّةِ (الرَّفْعِ) الْمُتَقَدِّمِ لِعَدَمِ ارْتِفَاعِ حَدَثِهِ

Orang yang hadatsnya terus-menerus, seperti mustahadhah dan penderita beser kencing atau semacamnya, cukup berniat istibahah (membolehkan shalat) dan tidak berniat mengangkat hadats, karena hadatsnya tidak terangkat.

Rujukan: Nihayatul Muhtaj, bab [فرائض الوضوء], juz 1, hlm. 161. Baca halaman ini di perpustakaan

Penderita salisul baul cukup berniat istibahah (membolehkan shalat) dan tidak berniat mengangkat hadats karena hadatsnya tidak terangkat. Kifayatul Akhyar (juz 1 hlm. 23) menyebut hal yang sama. Kitab itu juga menyebut adanya pendapat yang mengharuskan menggabung kedua niat dan pendapat yang mencukupkan salah satunya.

Bila penderita beser menjadi khatib Jumat

I'anatut Thalibin juga membahas khatib yang hadatsnya terus-menerus.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
ولزم وضوآن أو تيممان على خطيب دائم الحدث، أحدهما: للخطبتين والآخر بعدهما لصلاة جمعة، ويكفي واحد لهما لغيره

Wajib dua wudhu atau dua tayamum atas khatib yang hadatsnya terus-menerus: yang pertama untuk dua khutbah dan yang kedua setelahnya untuk shalat Jumat. Bagi selainnya, cukup satu untuk keduanya.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47. Baca halaman ini di perpustakaan

Teks matan Fathul Mu'in yang dikutip I'anatut Thalibin.

Jadi khatib seperti ini memerlukan dua wudhu: satu untuk dua khutbah dan satu lagi setelahnya untuk shalat Jumat. Orang yang tidak beser cukup dengan satu wudhu untuk keduanya. Hasyiyah menjelaskan alasannya.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
أي أحد الوضوأين أو التيممين - على ما في بعض النسخ - يكون للخطبتين لأن الخطبة، وإن كانت فرض كفاية هي قائمة مقام ركعتين فالتحقت بفرائض الأعيان

Yakni salah satu dari dua wudhu atau dua tayamum, menurut sebagian naskah, dilakukan untuk dua khutbah. Sebab khutbah, walaupun fardhu kifayah, menggantikan dua rakaat sehingga disamakan dengan fardhu ain.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47. Baca halaman ini di perpustakaan

Penjelasan hasyiyah atas kata 'ahaduhuma'.

Hasyiyah yang sama mencatat bahwa kata "tayamum" tidak ada di sebagian naskah. Menurutnya, ucapan "cukup satu" bagi orang sehat harus dibatasi pada wudhu, karena tayamum tidak boleh dipakai untuk dua kewajiban sekaligus.

Analisis penerapan

  • Penderita beser tanpa kateter. Teks kitab di atas langsung berlaku: bersihkan, sumbat atau balut bila perlu, wudhu setelah waktu masuk, lalu segera shalat.
  • Khatib beser. Bagian ini langsung dari teks I'anatut Thalibin. Karena syarat masuk waktu juga berlaku bagi penderita, wudhu pertama dilakukan setelah waktu Zuhur masuk. Bagian ini adalah analisis penulis artikel, bukan teks kitab.
  • Perbandingan dengan NU Online. Artikel NU Online berjudul "Shalat dengan Selang atau Kateter Urine" (Muhammad Iqbal Syauqi, 20 Februari 2021) menganalogikan pengguna kateter dengan orang yang senantiasa berhadats, seperti istihadhah dan salisul baul. Karena itu ia wajib bersuci setiap masuk waktu shalat fardhu. Ini sejalan dengan teks Nihayah dan I'anatut Thalibin di atas.
  • Perbedaan fokus. NU Online menambahkan persoalan najis pada selang dan kantong urine, yang tidak dibahas langsung dalam bahan kitab di sini. Tulisan itu menganjurkan mengosongkan kantong sebelum shalat. Bila najis di alat tidak dimaafkan, shalatnya dianggap lihurmatil waqti (menghormati waktu) dan dianjurkan diulang setelah kateter tidak lagi dipakai. Tulisan itu juga mengutip Hasyiyatul Jamal tentang maaf atas najis salas yang sedikit.
  • Status tulisan itu. Tulisan NU Online penulisnya menyebut analoginya sebagai hasil telaah pribadi.untuk rujukan bisa langsung membuka laman nu online.

Sikap praktis

  • Berwudhu setelah masuk waktu, jangan sebelumnya.
  • Bersihkan kemaluan, sumbat atau balut bila perlu, lalu segera shalat.
  • Berniat istibahah (membolehkan shalat), bukan niat mengangkat hadats.
  • Ulangi wudhu untuk setiap shalat fardhu. Satu wudhu boleh dipakai untuk shalat sunnah.
  • Khatib yang beser berwudhu dua kali: untuk khutbah, lalu untuk shalat Jumat.
  • Pengguna kateter permanen sebaiknya bertanya kepada ustadz atau kiai setempat dan berkonsultasi dengan dokter.
Perbandingan empat mazhab
MazhabPendapatRujukan
Syafi'i Penderita salisul baul berwudhu untuk setiap shalat fardhu setelah masuk waktu, membersihkan kemaluan, menyumbat atau membalut, lalu segera shalat dengan niat istibahah. Khatib yang beser berwudhu dua kali: untuk khutbah dan untuk shalat Jumat. I'anatut Thalibin, juz 1 hlm. 47; Nihayatul Muhtaj, juz 1 hlm. 161

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah penderita beser wajib wudhu setiap shalat?

Menurut mazhab Syafi'i, ya, untuk setiap shalat fardhu dan setelah masuk waktu, lalu ia segera shalat. Satu wudhu boleh dipakai untuk shalat sunnah sebanyak yang ia mau.

Bolehkah berwudhu sebelum masuk waktu bagi penderita beser?

Tidak. I'anatut Thalibin menyebut wudhu sebelum waktu tidak sah karena wudhunya adalah thaharah darurat, dan tidak ada darurat sebelum waktu.

Apa niat wudhu penderita beser?

Cukup niat istibahah (membolehkan shalat). Ia tidak berniat mengangkat hadats karena hadatsnya tidak terangkat.

Berapa kali wudhu khatib yang menderita beser?

Menurut I'anatut Thalibin, dua kali: satu untuk dua khutbah dan satu lagi setelahnya untuk shalat Jumat. Khatib yang tidak beser cukup satu wudhu.

Infografis

Infografis hijau dan emas tentang cara bersuci bagi penderita salisul baul menurut mazhab Syafi'i, termasuk dua wudhu bagi khatib beser.
Versi teks infografis

Bersuci bagi Salisul Baul
dan Kateter Permanen
Wudhu setiap shalat fardhu,
setelah masuk waktu, lalu
segera shalat.
Langkahnya:
1. Bersihkan kemaluan
2. Sumbat/balut (bila perlu)
3. Wudhu, niat istibahah
4. Segera shalat
Khatib beser: 2 kali wudhu
(khutbah, lalu shalat Jumat)
Kateter: tanyakan ke ustadz
Sumber: I'anatut Thalibin,
Nihayatul Muhtaj
sanadkitab.com

Sumber: I'anatut Thalibin; Nihayatul Muhtaj

Daftar rujukan

  1. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47.
  2. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47.
  3. Nihayatul Muhtaj, bab [فرائض الوضوء], juz 1, hlm. 161.
  4. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47.
  5. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47.
  6. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 1, hlm. 47.

Pembahasan terkait