Bolehkah Bepergian pada Hari Jumat sebelum Jumatan?
Kutipan telah dicocokkan dengan kitab (27 Oktober 2026)
Jawaban singkat
Menurut mazhab Syafi'i, bepergian sebelum terbit fajar hari Jumat boleh. Bagi orang yang wajib Jumat, bepergian sejak terbit fajar hingga Jumat selesai haram bila membuat Jumat terlewat, kecuali takut mudarat seperti tertinggal rombongan atau ia bisa Jumatan di jalan. Pendapat lain membolehkannya sebelum tergelincir matahari. Setelah Jumatan, boleh berangkat.
Gambaran kasus
Pertanyaan ini sering muncul pada hari Jumat pagi. Seseorang harus berangkat ke luar kota, atau rombongan sudah siap, tetapi ia belum menunaikan Jumatan. Bolehkah ia berangkat lebih dulu?
Jawabannya bergantung pada tiga hal: kapan ia berangkat (sebelum fajar, antara fajar dan tergelincir matahari atau zawal, atau sesudahnya), apakah ia termasuk orang yang wajib Jumat, dan apakah ia masih bisa Jumatan di tengah jalan atau di tempat tujuan.
Artikel ini disusun dari Fathul Wahhab, Al-Majmu', dan Al-Hawi al-Kabir. Kutipan kitab ditandai jelas, sedangkan analisis penulis ditulis terpisah.
Penjelasan menurut mazhab Syafi'i
Dasar: kewajiban Jumat bersandar pada hari Jumat
Fathul Wahhab menyebut ayat seruan Jumat sebagai dasar kewajiban Jumat.
Dalam bab yang sama, Fathul Wahhab menetapkan bahwa sejak fajar haram bagi orang yang wajib Jumat melakukan safar yang membuat Jumat terlewat. Syarahnya memberi contoh orang yang menduga tidak akan mendapati Jumat di jalan atau di tujuannya, meskipun safarnya safar ketaatan.
كَأَنْ ظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يُدْرِكْهَا فِي طَرِيقِهِ أَوْ مَقْصِدِهِ وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً وَقَبْلَ الزَّوَالِ
Misalnya ia menduga tidak akan mendapati Jumat di perjalanan atau di tujuannya, sekalipun safarnya safar ketaatan, dan (larangan itu berlaku) sebelum tergelincir matahari.
Rujukan: Fathul Wahhab, bab باب صلاة الجمعة, juz 1, hlm. 87. Baca halaman ini di perpustakaan
Merupakan syarah atas matan 'وبفجر حرم على من لزمته سفر تفوت به'. Matan tidak dikutip langsung karena berada di halaman 12036/99, dan satu kutipan tidak boleh melewati batas halaman.
Kitab yang sama menyebut pengecualian dan alasan larangan sebelum zawal.
كَانْقِطَاعِهِ عَنْ الرُّفْقَةِ فَلَا يَحْرُمُ وَلَوْ بَعْدَ الزَّوَالِ وَإِنَّمَا حَرُمَ قَبْلَ الزَّوَالِ وَإِنْ لم يدخل وقتها لأنه مُضَافَةٌ إلَى الْيَوْمِ
(Bila ia takut mudarat), seperti terputus dari rombongan, maka safar itu tidak haram, sekalipun setelah zawal. Safar hanya diharamkan sebelum zawal juga, walaupun waktu Jumat belum masuk, karena kewajiban itu disandarkan kepada hari tersebut.
Rujukan: Fathul Wahhab, bab باب صلاة الجمعة, juz 1, hlm. 87. Baca halaman ini di perpustakaan
Teks sumber memuat ungkapan 'مُضَافَةٌ' (bentuk muannats) tepat seperti ditulis; mohon diperiksa penulis.
Rincian tiga waktu keberangkatan
Al-Majmu' dan Al-Hawi merinci waktu keberangkatan pada hari Jumat.
Sebelum fajar. Al-Majmu' menyatakan bahwa safar sebelum fajar boleh tanpa khilaf dalam keadaan apa pun. Al-Hawi memberi alasan bahwa waktu itu belum termasuk hari Jumat. Al-Hawi juga menyebut boleh memulai safar setelah menunaikan Jumat.
Setelah zawal. Al-Hawi menyebut bahwa waktu yang tidak boleh memulai safar dimulai dari zawal.
فَهِيَ مِنْ وَقْتِ زَوَالِ الشَّمْسِ إِلَى أَنْ يَفُوتَ إِدْرَاكُ الْجُمْعَةِ، لِتَعَيُّنِ فَرْضِهَا، وَإِمْكَانِ فِعْلِهَا
Keadaan itu (waktu yang tidak boleh memulai safar) adalah sejak tergelincirnya matahari sampai hilangnya kesempatan mendapatkan Jumat, karena kewajibannya telah tertentu dan mungkin dikerjakan.
Rujukan: Al-Hawi al-Kabir, bab (مسألة), juz 2, hlm. 425. Baca halaman ini di perpustakaan
Al-Mawardi (w. 450 H) membagi keadaan menjadi empat; halaman bahan hanya memuat tiga keadaan pertama secara jelas.
Al-Majmu' menambahkan dua rincian. Pertama, bila di jalan ada tempat yang menyelenggarakan Jumat dan ia yakin sempat mendapatinya, safar boleh dan ia wajib Jumatan di sana. Kedua, bila ia takut mudarat karena tertinggal rombongan yang boleh ia ikuti, safar juga boleh. Al-Majmu' menyebut ini pendapat yang dipegang mazhab dan diikuti jumhur.
Antara fajar dan zawal. Pada waktu ini ada dua qaul. Pendapat yang lebih sahih adalah tidak boleh.
(أَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْمُصَنِّفِ وَالْأَصْحَابِ لَا يَجُوزُ وَهُوَ نَصُّهُ فِي أَكْثَرِ كُتُبِهِ الْجَدِيدَةِ
Yang lebih sahih di antara keduanya menurut penulis (Asy-Syirazi) dan para ulama mazhab adalah tidak boleh, dan itulah nash Imam Syafi'i dalam sebagian besar kitab jadidnya.
Rujukan: Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab باب صلاة الجمعة, juz 4, hlm. 499. Baca halaman ini di perpustakaan
Konteks: safar antara fajar dan zawal. Teks sebelumnya pada kitab menulis 'بين الزوال وطلوع الفجر'; rincian pada halaman 2157 ('أما السفر بين الفجر والزوال') menegaskan maksudnya.
Qaul lainnya membolehkan.
يَجُوزُ نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْقَدِيمِ وَحَرْمَلَةَ
(Qaul kedua:) boleh. Imam Syafi'i menyatakannya dalam qaul qadim dan dalam riwayat Harmalah.
Rujukan: Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab باب صلاة الجمعة, juz 4, hlm. 499. Baca halaman ini di perpustakaan
Pada teks sumber, kalimat ini diawali '(وَالثَّانِي)' pada baris sebelumnya.
Praktik di Mina memperlihatkan hal ini. Raudhatuth Thalibin menyebut bahwa bila hari Tarwiyah jatuh pada hari Jumat, jamaah haji dianjurkan berangkat ke Mina sebelum terbit fajar. Alasannya, safar pada hari Jumat ke tempat yang tidak menyelenggarakan Jumat itu haram atau makruh (Raudhatuth Thalibin, juz 3 hlm. 92).
| Mazhab | Pendapat | Rujukan |
|---|---|---|
| Syafi'i | Sebelum fajar dan setelah Jumat boleh. Setelah zawal dilarang kecuali Jumatan di jalan atau takut mudarat. Antara fajar dan zawal, qaul yang lebih sahih melarang, sedangkan qaul qadim membolehkan. | Al-Majmu', juz 4 hlm. 499; Fathul Wahhab, juz 1 hlm. 87 |
| Hanafi | Safar setelah zawal boleh menurut Abu Hanifah, sebagaimana dinukil Al-Majmu'. | Al-Majmu', juz 4 hlm. 499 |
| Maliki | Setelah zawal tidak boleh. Al-Majmu' mencatat Malik termasuk yang membolehkan safar antara fajar dan zawal. | Al-Majmu', juz 4 hlm. 499 |
| Hanbali | Sepakat dengan Syafi'iyah: setelah zawal tidak boleh, menurut nukilan Al-Majmu'. | Al-Majmu', juz 4 hlm. 499 |
Analisis penerapan
Bagian ini adalah analisis penulis, bukan teks kitab.
Bila rangkuman bahan ini diterapkan, urutannya sebagai berikut. Berangkat sebelum terbit fajar dibolehkan. Berangkat setelah Jumatan juga dibolehkan. Berangkat sejak fajar hingga Jumat selesai pada dasarnya dilarang bagi orang yang wajib Jumat bila safarnya membuat Jumat terlewat. Larangan itu tidak berlaku bila ia yakin masih bisa Jumatan di jalan atau di tujuan, atau bila ia takut mudarat seperti tertinggal rombongan.
Beberapa hal perlu diperhatikan agar tidak keliru.
- Larangan ini ditujukan kepada orang yang wajib Jumat. Fathul Wahhab menyebut perempuan dan musafir tidak termasuk yang diwajibkan Jumat. Artikel lain membahas siapa saja yang wajib Jumat.
- Qaul yang lebih sahih untuk waktu antara fajar dan zawal adalah larangan. Qaul qadim yang membolehkan tidak dipegang sebagai pendapat yang kuat dalam mazhab.
- Al-Majmu' menyebut bahwa pendapat yang membolehkan safar pada waktu itu bersandar pada hadits yang sangat lemah, dan tidak ada hadits sahih dalam masalah ini (Al-Majmu', juz 4 hlm. 500).
- Bahan ini tidak membahas pesawat, kereta, atau bus yang jadwalnya tetap. Bahan juga tidak membahas jarak minimal yang dihitung sebagai safar dalam konteks larangan ini, dan tidak membahas perjalanan harian seperti berangkat kerja. Karena itu artikel ini tidak menyimpulkan hukum untuk hal-hal tersebut.
Untuk rencana perjalanan yang rumit, misalnya jadwal transportasi yang tidak bisa diubah, akan dibahas di artikel lain.
Sikap praktis
- Bila memungkinkan, atur keberangkatan sebelum terbit fajar atau setelah Jumatan.
- Jangan berangkat pada pagi hari Jumat bila ia membuat Jumat terlewat, kecuali ada pengecualian yang disebut kitab: yakin bisa Jumatan di jalan atau tujuan, atau takut mudarat karena tertinggal rombongan.
- Bila akan Jumatan di perjalanan, pastikan ada tempat yang menyelenggarakannya dan waktunya cukup.
- Lihat juga artikel terkait di bawah tentang uzur Jumat dan jarak safar.
Kutipan dari kitab
فَلَا يَجُوزُ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد وَحَكَاهُ ابْنُ المنذر عن ابن عمرو وَعَائِشَةَ وَابْنِ الْمُسَيِّبِ وَمُجَاهِدٍ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَجُوزُ
Maka tidak boleh menurut kami, dan itu juga pendapat Malik, Ahmad, dan Dawud. Ibnul Mundzir menukilnya dari Ibnu Amr (sebagaimana tertulis), Aisyah, Ibnul Musayyab, dan Mujahid. Abu Hanifah berkata: boleh.
Rujukan: Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab باب صلاة الجمعة, juz 4, hlm. 499. Baca halaman ini di perpustakaan
Konteks: safar setelah zawal bila tidak takut tertinggal rombongan dan tidak Jumatan di jalan. Pendapat mazhab lain dinukil oleh Al-Majmu' (kitab Syafi'i), bukan dari kitab mazhab yang bersangkutan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bolehkah berangkat safar sebelum Subuh pada hari Jumat?
Boleh. Al-Majmu' menyatakan safar sebelum fajar boleh tanpa khilaf, karena waktu itu belum termasuk hari Jumat.
Bolehkah safar pagi hari Jumat sebelum zawal?
Menurut qaul yang lebih sahih tidak boleh bila membuat Jumat terlewat. Qaul qadim membolehkan, tetapi tidak dipegang sebagai pendapat yang kuat.
Bagaimana bila takut tertinggal rombongan?
Fathul Wahhab dan Al-Majmu' menyebut safar tidak haram bila ia takut mudarat, misalnya terputus dari rombongan.
Bolehkah berangkat setelah shalat Jumat?
Boleh. Al-Hawi menyebut boleh memulai safar setelah Jumat karena kewajiban sudah ditunaikan.
Infografis
Versi teks infografis
Bolehkah Bepergian pada
Hari Jumat sebelum Jumatan?
Sebelum fajar: boleh.
Sejak fajar: haram bila Jumat
terlewat, kecuali takut rugi.
Rincian dari kitab:
- Setelah Jumatan: boleh
- Boleh jika Jumat di jalan
- Takut tertinggal rombongan:
tidak haram
- Qaul qadim: boleh sebelum
zawal
Sumber: Fathul Wahhab,
Al-Majmu', Al-Hawi
sanadkitab.com
Sumber: Fathul Wahhab, Al-Majmu', Al-Hawi al-Kabir
Daftar rujukan
- Fathul Wahhab, bab باب صلاة الجمعة, juz 1, hlm. 87.
- Fathul Wahhab, bab باب صلاة الجمعة, juz 1, hlm. 87.
- Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab باب صلاة الجمعة, juz 4, hlm. 499.
- Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab باب صلاة الجمعة, juz 4, hlm. 499.
- Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab باب صلاة الجمعة, juz 4, hlm. 499.
- Al-Hawi al-Kabir, bab (مسألة), juz 2, hlm. 425.