Lewati ke konten

Bagaimana Hukum Shalat I'adah Dzuhur Setelah Shalat Jumat?

Terbit 5 menit baca

Kutipan telah dicocokkan dengan kitab (30 Oktober 2026)

Jawaban singkat

Menurut Kasyifatus Saja, bila jamaah masuk shalat Jumat dengan keyakinan syaratnya lengkap, mengulang Dzuhur tidak boleh karena tidak ada sebab yang mewajibkannya. Dzuhur wajib bila Jumat tidak pasti sah, dan disunnahkan demi khilaf pada keadaan tertentu, seperti Jumat berbilang karena hajat atau bertaklid pada pendapat yang membolehkan Jumat kurang dari 40 orang.

Gambaran kasus

Di sebuah daerah, jamaah salah satu masjid terbiasa melaksanakan Dzuhur dengan niat i'adah (mengulang) setelah Jumat selesai. Alasannya kehati-hatian (ihtiyath), kalau-kalau ada kekurangan atau keraguan pada Jumat tadi. Padahal Jumat tersebut telah memenuhi syarat: jumlah jamaah, waktu, tempat, dan ketentuan lainnya.

Ada dua pertanyaan. Pertama, bagaimana hukum mengulang Dzuhur dalam keadaan itu. Kedua, apakah kebiasaan tersebut dibenarkan atau ada ketentuan yang perlu diperhatikan.

Penjelasan menurut mazhab Syafi'i

Shalat Jumat diwajibkan atas orang yang memenuhi syarat wajibnya. Dasarnya ayat tentang panggilan shalat pada hari Jumat.

Dalil Al-Qur'an
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٩﴾

Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah.

QS. Al-Jumu'ah: 9. Baca tafsir ayat ini

Kifayatul Akhyar menyebut bahwa bila waktu habis atau syarat Jumat tidak terpenuhi, yang dilakukan adalah Dzuhur. Jadi Dzuhur adalah pengganti ketika Jumat yang sah tidak bisa didapat, bukan shalat tambahan setelah Jumat yang sah.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وَأَن يكون الْوَقْت بَاقِيا فَإِن خرج الْوَقْت أَو عدمت الشُّرُوط صليت ظهرا

Dan waktu masih ada. Bila waktu telah habis atau syarat-syaratnya tidak ada, maka dilaksanakan Dzuhur.

Rujukan: Kifayatul Akhyar, bab باب صلاة الجمعة, juz 1, hlm. 142. Baca halaman ini di perpustakaan

Potongan dari syarat-syarat sah Jumat menurut Kifayatul Akhyar.

Jawaban langsung: Jumat yang diyakini sah tidak diulang dengan Dzuhur

Kasyifatus Saja (syarah Safinatun Najah karya Syekh Nawawi al-Bantani) mengutip fatwa Syekh Muhammad Shalih ar-Ra'is. Beliau berbicara tentang jamaah yang masuk Jumat dengan dugaan ada orang yang tidak memenuhi syarat. Bila mereka masuk shalat dengan dugaan syaratnya lengkap, mengulang tidak boleh karena tidak ada sebab yang mewajibkan pengulangan.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وأما إن دخلوا في الصلاة مع ظن استجماع الشروط فلا تجوز الإعادة لعدم الموجب للإعادة.

Adapun bila mereka masuk shalat dengan dugaan syarat-syaratnya lengkap, maka mengulang tidak boleh karena tidak ada sebab yang mewajibkan pengulangan.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 370. Baca halaman ini di perpustakaan

Fatwa Syekh Muhammad Shalih ar-Ra'is yang dikutip Kasyifatus Saja. Konteksnya dugaan adanya orang ummi di antara 40 jamaah Jumat; penerapan pada kasus ini bersifat analogi.

Konteks fatwa itu adalah dugaan adanya orang ummi di antara jamaah.

Pokok persoalan: Jumat tidak boleh berbilang tanpa hajat

Matan Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami menyebut bahwa salah satu syarat sah Jumat adalah tidak ada Jumat lain di negeri itu yang mendahului atau menyertainya.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وأن لا تسبقها ولا تقارنها جمعة في تلك البلد،

Dan (syarat sahnya) tidak ada Jumat lain di negeri itu yang mendahuluinya dan tidak pula menyertainya.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373. Baca halaman ini di perpustakaan

Matan Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami, pada kepala halaman.

Syarahnya menyebutnya syarat kelima. Maksudnya Jumat lain di tempat Jumat yang sama, pada takbiratul ihram terakhir imam, kecuali bila sulit mengumpulkan orang di satu tempat.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وخامسها: أن لا تسبقها ولا تقارنها في آخر إحرام الإمام، وهو الراء من «أكبر»، جمعة أخرى في تلك البلد، أي: في محل الجمعة، إلا إن عسر اجتماع الناس بمكان، ولو غير مسجد، كشارع، وهو ما يسلكه الناس؛

Syarat kelima: tidak ada Jumat lain di negeri itu, yakni di tempat Jumat, yang mendahuluinya atau bersamaan dengannya pada akhir takbiratul ihram imam, yaitu huruf ra pada kata 'akbar', kecuali bila sulit mengumpulkan orang di satu tempat, meskipun bukan masjid, seperti jalan yang biasa dilalui orang.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373. Baca halaman ini di perpustakaan

Bila Jumat berbilang karena hajat, bilangan itu boleh sesuai kadar hajat dan semuanya sah menurut pendapat yang lebih sahih. Meski sah, Dzuhur disunnahkan sesudahnya demi menghormati perbedaan pendapat (mura'atan lil khilaf).

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
واعلم أنه إذا تعددت الجمعة لحاجة، بأن عسر الاجتماع بمكان، جاز له التعدد بقدرها، وصحت صلاة الجميع على الأصح، سواء وقع إحرام الأئمة معا أو مرتبا. وسن الظهر مراعاة للخلاف.

Ketahuilah, apabila Jumat berbilang karena hajat, yaitu sulit berkumpul di satu tempat, maka boleh berbilang sesuai kadar hajat, dan shalat semuanya sah menurut pendapat yang lebih sahih, baik takbiratul ihram para imam bersamaan maupun berurutan. Dzuhur disunnahkan demi menghormati perbedaan pendapat.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373. Baca halaman ini di perpustakaan

Bila berbilang tanpa hajat

Kasyifatus Saja merinci lima keadaan. Pada keadaan pertama, dua Jumat terjadi bersamaan sehingga keduanya batal. Jamaah wajib berkumpul di satu tempat.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
وأما إذا تعددت لغير الحاجة المذكورة فله خمس حالات: الحالة الأولى: أن يقعا معا فيبطلان، فيجب أن يجتمعوا في محل

Adapun bila Jumat berbilang bukan karena hajat tersebut, ada lima keadaan. Keadaan pertama: keduanya terjadi bersamaan sehingga keduanya batal, maka mereka wajib berkumpul di satu tempat...

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373. Baca halaman ini di perpustakaan

Kalimat berlanjut ke halaman 374 ('واحد ويعيدوها جمعة...'), dikutip terpisah pada kutipan 6 agar tidak melewati batas halaman.

Lanjutan keadaan pertama pada halaman berikutnya: jamaah mengulangnya sebagai Jumat bila waktu longgar, dan Dzuhur tidak sah sesudahnya.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
واحد ويعيدوها جمعة عند اتساع الوقت، ولا تصح الظهر بعدها.

...satu tempat, dan mengulangnya sebagai Jumat bila waktu masih longgar, dan Dzuhur tidak sah sesudahnya.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374. Baca halaman ini di perpustakaan

Lanjutan keadaan pertama dari hlm. 373.

Pada keadaan kedua, Jumat berurutan. Yang pertama sah, yang belakangan batal, sehingga ahli Jumat yang belakangan wajib Dzuhur.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
الحالة الثانية: أن يقعا مرتبا، فالسابقة هي الصحيحة واللاحقة باطلة، فيجب على أهلها صلاة الظهر.

Keadaan kedua: keduanya terjadi berurutan. Maka yang lebih dahulu sah dan yang belakangan batal, sehingga ahli Jumat yang belakangan wajib shalat Dzuhur.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374. Baca halaman ini di perpustakaan

Pada keadaan ketiga, jamaah ragu antara mendahului dan bersamaan. Mereka mengulang sebagai Jumat selama waktu longgar, lalu Dzuhur disunnahkan sesudahnya.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
الحالة الثالثة: أن يشك في السبق والمعية، فيجب عليهم أن يجتمعوا في محل، ويعيدوها جمعة عند اتساع الوقت؛ وتسن الظهر بعدها.

Keadaan ketiga: ragu antara mendahului dan bersamaan. Mereka wajib berkumpul di satu tempat dan mengulangnya sebagai Jumat bila waktu masih longgar, dan Dzuhur disunnahkan sesudahnya.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374. Baca halaman ini di perpustakaan

Pada keadaan keempat, diketahui ada yang mendahului tetapi tidak diketahui yang mana. Jumat tidak bisa diulang karena sudah pasti ada Jumat yang sah, sehingga yang wajib adalah Dzuhur.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
فيجب عليهم الظهر، لأنه لا سبيل إلى إعادة الجمعة مع تيقن وقوع جمعة صحيحة في نفس الأمر

Maka mereka wajib Dzuhur, karena tidak ada jalan mengulang Jumat padahal sudah diyakini terjadi Jumat yang sah dalam kenyataannya.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374. Baca halaman ini di perpustakaan

Keadaan keempat (diketahui ada yang mendahului tetapi tidak diketahui yang mana).

Keadaan kelima, yaitu diketahui yang mendahului tetapi terlupa, hukumnya seperti keadaan keempat.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
الحالة الخامسة: أن يعلم السبق ولم تعلم عين السابقة، أو علمت لكن نسيت، وهي كالحالة الرابعة، أي: فيجب استئناف الظهر فقط لالتباس الصحيحة بالفاسدة.

Keadaan kelima: diketahui ada yang mendahului tetapi tidak diketahui yang mana, atau diketahui tetapi terlupa. Hukumnya seperti keadaan keempat, yaitu wajib mengulang Dzuhur saja karena tercampurnya yang sah dengan yang rusak.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374. Baca halaman ini di perpustakaan

I'anatut Thalibin menambahkan bahwa bila bilangan melebihi hajat, Jumat yang lebih dahulu sah sampai hajat terpenuhi dan yang berlebih batal. Siapa yang ragu apakah ia termasuk yang sah, wajib mengulang Jumat.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
فإن كان التعدد زائدا على الحاجة فتصح السابقات إلى أن تنتهي الحاجة ثم تبطل الزائدات. ومن شك أنه من الأولين، أو من الآخرين، أو في أن التعدد لحاجة أولا، لزمته إعادة الجمعة.

Bila bilangan Jumat melebihi kebutuhan, Jumat-Jumat yang lebih dahulu sah sampai kebutuhan terpenuhi, kemudian yang berlebih batal. Siapa yang ragu apakah ia termasuk yang pertama atau yang kemudian, atau ragu apakah bilangan itu karena hajat atau tidak, wajib mengulang Jumat.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 2, hlm. 74. Baca halaman ini di perpustakaan

Fatwa Syekh ar-Ramli dalam kitab yang sama menjawab orang yang menuduh Syafi'iyah shalat enam kali sehari. Beliau menjelaskan bahwa Dzuhur wajib diulang hanya bila tidak diketahui adanya Jumat sah yang mendahului.

Pendapat mu'tamad (Syafi'i) Mazhab Syafi'i
ونحن لا نقول بوجوب ست صلوات بأصل الشرع، وإنما تجب إعادة الظهر إذا لم يعلم تقدم جمعة صحيحة، إذ الشرط عندنا أن لا تتعدد في البلد إلا بحسب الحاجة، ومعلوم لكل أحد أن هناك فوق الحاجة، وحينئذ من لم يعلم وقوع جمعته من العدد المعتبر وجبت عليه الظهر، وكان كأنه لم يصل جمعة

Kami tidak berpendapat bahwa enam shalat wajib menurut pokok syariat. Dzuhur wajib diulang hanya bila tidak diketahui adanya Jumat sah yang mendahului, sebab syarat dalam mazhab kami adalah Jumat tidak boleh berbilang dalam satu kota kecuali karena hajat. Padahal semua orang tahu jumlahnya telah melampaui hajat. Maka siapa yang tidak tahu Jumatnya termasuk bilangan yang dianggap, wajib Dzuhur, seakan-akan ia belum shalat Jumat.

Rujukan: I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 2, hlm. 74. Baca halaman ini di perpustakaan

Jawaban ar-Ramli yang dikutip pengarang I'anatut Thalibin.

Bertaklid pada pendapat yang membolehkan kurang dari 40 orang

Kasyifatus Saja juga menyebut bahwa orang yang bertaklid kepada pendapat yang membolehkan Jumat kurang dari empat puluh orang, dengan syarat tertentu, disunnahkan melakukan Dzuhur. Menurut al-Kurdi itu lebih berhati-hati demi keluar dari khilaf.

Pendapat lain dalam mazhab Mazhab Syafi'i
ولا يكفي في تقليد بعضهم بل لا بد من تقليدهم وعلمهم بشروط ما يقلدون فيه عند من يقلدون؛ ويسن لهم فعل الظهر. قال العلامة الكردي في «فتاويه»: وهو الأحوط خروجا من الخلاف.

Tidak cukup bertaklid pada sebagian pendapat mereka saja. Harus bertaklid pada pendapat mereka secara utuh dan mengetahui syarat-syarat yang diikuti menurut ulama yang ditaklidi. Mereka disunnahkan mengerjakan Dzuhur. Al-Allamah al-Kurdi dalam fatwanya berkata: itu lebih berhati-hati demi keluar dari perbedaan pendapat.

Rujukan: Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 371. Baca halaman ini di perpustakaan

Konteksnya orang yang bertaklid pada pendapat yang membolehkan Jumat kurang dari empat puluh orang (seperti Abu Hanifah dan Malik).

Analisis penerapan

Bagian ini adalah analisis penulis atas teks kitab, bukan fatwa.

Pertama, kitab membedakan tiga keadaan. Dzuhur wajib bila Jumat tidak pasti sah, misalnya Jumat berurutan sehingga yang belakangan batal, atau tidak diketahui yang mana yang mendahului. Dzuhur sunnah, bukan wajib, pada Jumat berbilang karena hajat, pada ragu urutan setelah Jumat diulang, dan pada taklid kepada pendapat yang membolehkan Jumat kurang dari 40 orang. Pada Jumat bersamaan, Dzuhur justru tidak sah sebagai pengganti. Yang diulang adalah Jumatnya.

Kedua, kasus yang ditanyakan adalah Jumat yang syaratnya terpenuhi dan diyakini sah. Ia tidak termasuk keadaan di atas. Fatwa ar-Ra'is dalam Kasyifatus Saja menyatakan bahwa bila jamaah masuk shalat dengan dugaan syarat lengkap, pengulangan tidak boleh karena tidak ada sebab yang mewajibkannya. Dari sini terlihat bahwa kehati-hatian dalam kitab ditempatkan pada keraguan yang nyata, bukan pada kebiasaan mengulang tanpa alasan.

Ketiga, niat perlu diperhatikan. Fatwa ar-Ramli menolak anggapan bahwa Dzuhur wajib dalam setiap Jumat. Karena itu, menganggap Dzuhur ulangan sebagai kewajiban atau bagian dari Jumat tidak sesuai dengan teks yang dikutip.

Keempat, kondisi daerah perlu dilihat. Bila di daerah itu ada beberapa Jumat tanpa hajat yang jelas, atau jamaah ragu Jumatnya termasuk yang sah, Dzuhur menjadi wajib menurut I'anatut Thalibin dan Kasyifatus Saja, bukan sekadar ihtiyath. Menilai apakah masjid tersebut termasuk keadaan ini memerlukan ulama setempat.

Sikap praktis

  • Periksa dulu apakah ada keraguan nyata soal sahnya Jumat, misalnya ada beberapa Jumat di satu daerah tanpa hajat yang jelas.
  • Bila Jumat diyakini sah dan syaratnya lengkap, jangan membiasakan Dzuhur ulangan dan jangan menyebutnya kewajiban.
  • Bila Jumat berbilang karena hajat, atau jamaah sengaja bertaklid pada pendapat yang membolehkan jumlah kurang dari 40, Dzuhur boleh dilakukan sebagai kesunnahan demi khilaf menurut Kasyifatus Saja.
  • Untuk keputusan kebiasaan di masjid setempat, tanyakan kepada ustadz atau kiai yang paham fikih Syafi'i, dan bicarakan secara baik tanpa saling menyalahkan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah Dzuhur wajib diulang setelah Jumat yang sah?

Tidak. Menurut ar-Ramli dalam I'anatut Thalibin, Dzuhur wajib hanya bila tidak diketahui ada Jumat sah yang mendahului. Jumat yang diyakini sah tidak mewajibkannya.

Bolehkah mengulang Dzuhur setelah Jumat demi kehati-hatian?

Kasyifatus Saja mengutip fatwa bahwa bila jamaah masuk shalat dengan dugaan syarat lengkap, pengulangan tidak boleh karena tidak ada sebab yang mewajibkan. Untuk kasus tertentu, tanyakan ulama setempat.

Kapan Dzuhur setelah Jumat disunnahkan?

Kasyifatus Saja menyebutnya disunnahkan demi khilaf, antara lain bila Jumat berbilang karena hajat, pada ragu urutan setelah Jumat diulang, dan bagi yang bertaklid pada pendapat yang membolehkan Jumat kurang dari 40 orang.

Kapan Dzuhur setelah Jumat menjadi wajib?

Misalnya bila Jumat berbilang tanpa hajat dan berurutan sehingga yang belakangan batal, atau bila diketahui ada yang mendahului tetapi tidak diketahui atau terlupa yang mana.

Infografis

Infografis hijau dan emas tentang kapan Dzuhur wajib, sunnah, atau tidak diulang setelah shalat Jumat menurut mazhab Syafi'i.
Versi teks infografis

Mengulang Dzuhur
Setelah Jumat?
Jumat diyakini sah: tidak
ada sebab mengulang Dzuhur.
Ragu sah: Dzuhur wajib.
Poin penting
1. Jumat berbilang tanpa
hajat: Dzuhur wajib
2. Berbilang karena hajat:
Dzuhur sunnah demi khilaf
3. Jumat yakin sah: jangan
dijadikan kebiasaan
4. Tanyakan ulama setempat
Sumber: Kasyifatus Saja,
I'anatut Thalibin
sanadkitab.com

Sumber: Kasyifatus Saja, I'anatut Thalibin

Daftar rujukan

  1. Kifayatul Akhyar, bab باب صلاة الجمعة, juz 1, hlm. 142.
  2. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373.
  3. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373.
  4. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373.
  5. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 373.
  6. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374.
  7. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374.
  8. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374.
  9. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374.
  10. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 374.
  11. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 2, hlm. 74.
  12. I'anatut Thalibin, bab باب الصلاة, juz 2, hlm. 74.
  13. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 371.
  14. Kasyifatus Saja (matan Safinatun Najah), bab فصل [في شروط صحة فعل الجمعة], hlm. 370.

Pembahasan terkait