Mengapa Tidak Ada Jamak Shalat Ashar dan Maghrib?
Kutipan telah dicocokkan dengan kitab (24 Oktober 2026)
Jawaban singkat
Dalam mazhab Syafi'i, jamak hanya boleh antara dzuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya, baik taqdim maupun takhir, dalam safar panjang yang mubah. Ashar tidak dijamak dengan maghrib, dan subuh tidak dijamak dengan shalat lain. Kitab yang ada menyebut ketentuan ini tanpa merinci sebabnya; dasarnya adalah riwayat yang hanya menyebut dua pasangan itu.
Gambaran kasus
Banyak orang tahu bahwa musafir boleh menjamak shalat. Lalu muncul pertanyaan: jika dzuhur bisa digabung dengan ashar dan maghrib dengan isya, mengapa ashar tidak bisa digabung dengan maghrib? Mengapa pula subuh tidak bisa digabung dengan dzuhur?
Pertanyaan ini sering muncul dalam perjalanan jauh. Misalnya seseorang berangkat siang hari, lalu ingin menggabungkan ashar dengan maghrib sekaligus agar tidak berhenti dua kali. Artikel ini menjelaskan apa yang tertulis dalam kitab-kitab mazhab Syafi'i tentang pasangan shalat yang boleh dijamak. Teks kitab dan analisis penulis dipisahkan dengan jelas.
Penjelasan menurut mazhab Syafi'i
Hanya dua pasangan yang dijamak
Kifayatul Akhyar menyebut ketentuan jamak dalam satu rangkaian kalimat. Pasangan yang boleh adalah dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya. Di ujung kalimat ditegaskan bahwa subuh tidak digabungkan ke shalat lain, dan ashar tidak digabungkan ke maghrib.
يجوز الْجمع بَين الظّهْر وَالْعصر وَبَين الْمغرب وَالْعشَاء جمع تَقْدِيم فِي وَقت الأولى وَجمع تَأْخِير فِي وَقت الثَّانِيَة فِي السّفر الطَّوِيل وَلَا تجمع الصُّبْح إِلَى غَيرهَا وَلَا الْعَصْر إِلَى الْمغرب
Boleh menjamak antara dzuhur dan ashar serta antara maghrib dan isya, baik jamak taqdim di waktu shalat pertama maupun jamak takhir di waktu shalat kedua, dalam safar yang panjang. Subuh tidak dijamak kepada shalat lain, dan ashar tidak dijamak kepada maghrib.
Rujukan: Kifayatul Akhyar, bab باب قصر الصلاة وجمعها, juz 1, hlm. 139. Baca halaman ini di perpustakaan
Al-Fiqh al-Manhaji merumuskan hal yang sama dengan bahasa yang lebih ringkas. Kitab ini menyebut dua pasangan yang "layak" dijamak, lalu menyimpulkan bahwa subuh tidak boleh dijamak dengan shalat sebelum atau sesudahnya, sebagaimana ashar tidak dijamak dengan maghrib.
علم مما سبق أن الصلوات التي يصلح أن يجمع بينها: هي الظهر مع العصر، والمغرب مع العشاء. فلا يصح أن يجمع الصبح مع ما قبله أو بعده، كما لا يجمع بين العصر والمغرب.
Dari uraian sebelumnya diketahui bahwa shalat yang layak dijamak adalah dzuhur dengan ashar, dan maghrib dengan isya. Maka tidak sah menjamak subuh dengan shalat sebelum atau sesudahnya, sebagaimana tidak dijamak antara ashar dan maghrib.
Rujukan: Al-Fiqh al-Manhaji, bab شروط جمع التقديم:, juz 1, hlm. 188. Baca halaman ini di perpustakaan
Jamak taqdim dan takhir dalam safar panjang
Mughni al-Muhtaj menjelaskan bahwa dua pasangan itu boleh dijamak secara taqdim (di waktu shalat pertama) maupun takhir (di waktu shalat kedua) dalam safar panjang yang mubah. Kitab ini menyebut alasan "al-ittiba'", yakni mengikuti praktik Nabi ﷺ. Ia juga menyebut sumber riwayatnya: jamak takhir ada di Shahihain dari Anas dan Ibnu Umar, sedangkan jamak taqdim berasal dari hadits Mu'adz.
(فِي السَّفَرِ الطَّوِيلِ) الْمُبَاحِ لِلِاتِّبَاعِ. أَمَّا جَمْعُ التَّأْخِيرِ فَثَابِتٌ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ وَابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ -. وَأَمَّا جَمْعُ التَّقْدِيمِ فَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْبَيْهَقِيُّ مِنْ حَدِيثِ مُعَاذٍ وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ.
(Dalam) safar panjang yang mubah, karena mengikuti (praktik Nabi). Adapun jamak takhir, ia tercatat dalam Shahihain dari hadits Anas dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhum. Adapun jamak taqdim, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Baihaqi dari hadits Mu'adz, dan dihasankan oleh at-Tirmidzi.
Rujukan: Mughnil Muhtaj, bab [فصل في الجمع بين الصلاتين], juz 1, hlm. 529. Baca halaman ini di perpustakaan
Kutipan ini mengomentari matan yang menyebut dua pasangan: dzuhur-ashar dan maghrib-isya.
Pola riwayat Mu'adz di Tabuk
Al-Fiqh al-Manhaji juga menukil riwayat Mu'adz dalam perjalanan ke Tabuk. Riwayat itu menggambarkan cara Nabi ﷺ menggabungkan shalat, dan seluruh contohnya hanya menyangkut dzuhur-ashar serta maghrib-isya. Berikut bagian yang menyangkut maghrib dan isya.
وكان إذا ارتحل قبل المغرب أخر المغرب حتى يصليها مع العشاء، وإذا ارتحل بعد المغرب عجل العشاء، فصلاها مع المغرب.
Apabila beliau berangkat sebelum maghrib, beliau mengakhirkan maghrib hingga mengerjakannya bersama isya. Apabila beliau berangkat setelah maghrib, beliau menyegerakan isya lalu mengerjakannya bersama maghrib.
Rujukan: Al-Fiqh al-Manhaji, bab شروط جمع التقديم:, juz 1, hlm. 188. Baca halaman ini di perpustakaan
Bagian dari riwayat Mu'adz dalam perjalanan ke Tabuk.
Kaitan dengan pembagian waktu shalat
Asnal Mathalib mencatat bahwa dzuhur memiliki waktu fadhilah, waktu ikhtiyar, dan waktu uzur. Waktu uzur dzuhur adalah waktu ashar bagi orang yang menjamak. Ini menunjukkan bahwa dalam kerangka mazhab, jamak dipahami sebagai memakai waktu shalat pasangannya karena adanya uzur.
وَلِلظُّهْرِ ثَلَاثَةُ أَوْقَاتٍ وَقْتُ فَضِيلَةٍ أَوَّلُهُ وَوَقْتُ اخْتِيَارٍ إلَى آخِرِهِ وَوَقْتُ عُذْرِ وَقْتِ الْعَصْرِ لِمَنْ يَجْمَعُ
Dzuhur memiliki tiga waktu: waktu fadhilah di awalnya, waktu ikhtiyar sampai akhirnya, dan waktu uzur, yaitu waktu ashar bagi orang yang menjamak.
Rujukan: Asnal Mathalib, bab [أول وقت العصر], juz 1, hlm. 116. Baca halaman ini di perpustakaan
Dinukil dari al-Majmu' sebagai pendapat mayoritas ulama Syafi'iyah.
| Mazhab | Pendapat | Rujukan |
|---|---|---|
| Syafi'i | Jamak hanya dibolehkan antara dzuhur-ashar dan maghrib-isya, taqdim maupun takhir, dalam safar panjang yang mubah. Ashar-maghrib dan subuh dengan shalat lain tidak dijamak. | Kifayatul Akhyar, hlm. 139; Al-Fiqh al-Manhaji, juz 1 hlm. 188 |
| Hanafi | Menurut keterangan Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, Abu Hanifah (bersama al-Muzani) melarang jamak secara umum kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Karena itu pertanyaan tentang jamak ashar-maghrib tidak muncul dalam pendapat ini. | Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, juz 1 hlm. 305 |
Analisis penerapan
Bagian ini adalah pembacaan penulis atas bahan di atas, bukan teks kitab.
Pertama, rujukan yang tersedia menyebut dua pasangan dan menolak pasangan lain, tetapi tidak menguraikan sebab (illat) khusus mengapa ashar-maghrib tidak boleh. Yang disebut jelas adalah dasar ittiba', yaitu riwayat yang sampai kepada kita hanya memuat dzuhur-ashar dan maghrib-isya.
Kedua, urutan waktu saja tidak cukup sebagai penjelasan. Ashar dan maghrib juga berurutan, tetapi tidak dijamak. Jadi pembatasan ini bersandar pada riwayat yang dijadikan dasar, bukan pada logika kedekatan waktu semata.
Ketiga, ketentuan ini berlaku pada pasangan shalatnya. Jika seorang musafir memenuhi syarat safar panjang yang mubah, ia tetap boleh menjamak dzuhur dengan ashar, dan maghrib dengan isya. Ashar tetap dikerjakan di waktunya sendiri, kecuali bila ia digabung dengan dzuhur.
Contoh: seseorang berangkat pagi dan baru berhenti menjelang maghrib. Ia dapat menjamak dzuhur dan ashar, baik taqdim maupun takhir. Maghrib dikerjakan di waktunya, atau digabung dengan isya bila ia masih dalam kondisi yang membolehkan jamak. Ia tidak boleh meniatkan jamak ashar dengan maghrib.
Sikap praktis
- Jamak hanya untuk dua pasangan: dzuhur dengan ashar, dan maghrib dengan isya.
- Ashar tidak dijamak dengan maghrib, dan subuh tidak dijamak dengan shalat lain.
- Jika waktu shalat ashar mepet maghrib, kerjakan ashar sebelum maghrib habis. Rencanakan jamak dzuhur-ashar lebih awal.
- Untuk syarat dan niat jamak taqdim maupun takhir, lihat artikel terpisah tentang itu.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah ashar dan maghrib boleh dijamak dalam keadaan darurat?
Bahan kitab di atas tidak menyebut pengecualian untuk pasangan ashar-maghrib. Untuk kondisi darurat tertentu, sebaiknya tanyakan kepada ustadz atau kiai setempat.
Apakah subuh boleh dijamak dengan dzuhur?
Tidak. Kifayatul Akhyar dan Al-Fiqh al-Manhaji menyebut subuh tidak digabungkan dengan shalat lain.
Shalat apa saja yang boleh dijamak menurut mazhab Syafi'i?
Dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya, baik taqdim maupun takhir, dalam safar panjang yang mubah.
Infografis
Versi teks infografis
Mengapa Tidak Ada Jamak
Ashar dan Maghrib?
Jamak hanya dua pasangan:
Dzuhur + Ashar
Maghrib + Isya
Ashar-Maghrib tidak dijamak
Subuh tidak bisa dijamak
Boleh taqdim atau takhir
Syarat: safar panjang mubah
Dasar: riwayat Mu'adz di Tabuk
Sumber: Kifayatul Akhyar,
Fiqh Manhaji, Mughni
sanadkitab.com
Sumber: Kifayatul Akhyar; Al-Fiqh al-Manhaji; Mughni al-Muhtaj
Daftar rujukan
- Kifayatul Akhyar, bab باب قصر الصلاة وجمعها, juz 1, hlm. 139.
- Al-Fiqh al-Manhaji, bab شروط جمع التقديم:, juz 1, hlm. 188.
- Mughnil Muhtaj, bab [فصل في الجمع بين الصلاتين], juz 1, hlm. 529.
- Al-Fiqh al-Manhaji, bab شروط جمع التقديم:, juz 1, hlm. 188.
- Asnal Mathalib, bab [أول وقت العصر], juz 1, hlm. 116.